Dalam kondisi seperti ini anjing penyalak liar pun akhirnya harus mulai belajar kapan saatnya untuk menggonggong, kapan menggeram, dan kapan harus diam. Benar-benar keadaan yang menyulitkan bagi anjing penyalak liar, karena sudah terbiasa menyalak setiap saat kapan pun dia mau.
Pada masa dinasti Orde Baru siapa yang tidak mengenal istilah ABS. Iya betul, ABS adalah kependekan dari Asal Bapak Senang. Pada masa itu banyak sekali ‘anjing-anjing’ yang pandai menjilat. Umumnya mereka mempunyai ciri-ciri lidah yang panjang dan lebar. Dan, pada masa itu memang banyak ‘tuan’ yang suka dijilat. Bahkan mereka tidak sungkan terang-terangan meminta untuk dijilati oleh anjing-anjing peliharaannya. Jilatan enak yang semula adalah inisiatif si anjing supaya dirinya tidak ditendang, kemudian lambat laun berubah trend menjadi ‘tuan’-nya yang minta dijilati. Barangkali karena benar-benar senang dengan rasa enak tersebut akhirnya si tuan menjadi ketagihan. Kemudian terciptalah simbiosis mutualisme antara tuan dan anjing penjilatnya.
Pada masa Orde Baru sebenarnya ada juga anjing-anjing yang tidak pandai menjilat. Biasanya anjing yang tidak pandai menjilat ini lebih suka menyalak atau minimal menggeram dengan memamerkan gigi-gigi tajamnya . Anjing penyalak pastilah tidak akan pernah disukai oleh model tuan yang sangat senang dijilat. Apalagi bila anjing itu menyalak dengan keras. Semakin keras gonggongannya maka ia dianggap semakin membahayakan tuannya. Daripada mencelakakan tuannya, lebih baik anjing-anjing penyalak ini disingkirkan. Beruntung apabila anjing-anjing penyalak yang disingkirkan tersebut masih hidup. Ia akan menjadi anjing liar yang menyalak setiap saat. Akan lebih beruntung bila anjing penyalak ini kemudian bertemu dengan tuan yang baru, yang memang suka anjing penyalak karena suaranya bisa mengingatkan si tuan bila ada bahaya atau sesuatu yang mencurigakan.
Itu jaman dulu. Sekarang sudah berbeda. Tapi mau ngomong apa sih tulisan ini? Nah, ini kelanjutannya sepuluh tahun kemudian (sekarang). Read more »
Hari belum terlalu malam, ketika dari dalam ruang tidurku terdengar suara ketukan pada pintu depan rumah kami. Sesaat kemudian terdengar langkah kaki ibuku bergegas membukakan pintu. Terdengar seseorang menanyakanku petang itu. Rupanya ibuku mengira aku sudah terlelap dalam tidurku karena sayup-sayup aku mendengar kata tidur terucap oleh beliau. Rupanya istriku pun masih terjaga sehingga mendengar ketukan pintu tadi dan berkata, “Ada yang mencari sampeyan Mas”, bisiknya lirih berusaha agar tidak membangunkan anak kami yang lelap dalam mimpi indahnya.