Pilih (Anjing) yang Mana?

Dalam kondisi seperti ini anjing penyalak liar pun akhirnya harus mulai belajar kapan saatnya untuk menggonggong, kapan menggeram, dan kapan harus diam. Benar-benar keadaan yang menyulitkan bagi anjing penyalak liar, karena sudah terbiasa menyalak setiap saat kapan pun dia mau. 

Pada masa dinasti Orde Baru siapa yang tidak mengenal istilah ABS. Iya betul, ABS adalah kependekan dari Asal Bapak Senang. Pada masa itu banyak sekali ‘anjing-anjing’ yang pandai menjilat. Umumnya mereka mempunyai ciri-ciri lidah yang panjang dan lebar. Dan, pada masa itu memang banyak ‘tuan’ yang suka dijilat. Bahkan mereka tidak sungkan terang-terangan meminta untuk dijilati oleh anjing-anjing peliharaannya. Jilatan enak yang semula adalah inisiatif si anjing supaya dirinya tidak ditendang, kemudian lambat laun berubah trend menjadi ‘tuan’-nya yang minta dijilati. Barangkali karena benar-benar senang dengan rasa enak tersebut akhirnya si tuan menjadi ketagihan. Kemudian terciptalah simbiosis mutualisme antara tuan dan anjing penjilatnya.

Pada masa Orde Baru sebenarnya ada juga anjing-anjing yang tidak pandai menjilat. Biasanya anjing yang tidak pandai menjilat ini lebih suka menyalak atau minimal menggeram dengan memamerkan gigi-gigi tajamnya . Anjing penyalak pastilah tidak akan pernah disukai oleh model tuan yang sangat senang dijilat. Apalagi bila anjing itu menyalak dengan keras. Semakin keras gonggongannya maka ia dianggap semakin membahayakan tuannya. Daripada mencelakakan tuannya, lebih baik anjing-anjing penyalak ini disingkirkan. Beruntung apabila anjing-anjing penyalak yang disingkirkan tersebut masih hidup. Ia akan menjadi anjing liar yang menyalak setiap saat. Akan lebih beruntung bila anjing penyalak ini kemudian bertemu dengan tuan yang baru, yang memang suka anjing penyalak karena suaranya bisa mengingatkan si tuan bila ada bahaya atau sesuatu yang mencurigakan.

Itu jaman dulu. Sekarang sudah berbeda. Tapi mau ngomong apa sih tulisan ini? Nah, ini kelanjutannya sepuluh tahun kemudian (sekarang).

Sudah sepuluh tahun dinasti Orde Baru tumbang dan diganti oleh dinasti Reformasi. Sebagai sesuatu yang baru, dinasti Reformasi pada awalnya banyak melakukan pembenahan di sana-sini. Puing-puing reruntuhan dinasti sebelumnya dibersihkan dan diganti dengan bangunan baru. Tetapi tidak semuanya bisa dibersihkan dengan sempurna. Maklum, dinasti Orde Baru berkuasa cukup lama hingga mampu menanamkan budayanya dengan sangat kuat. Paling tidak dinasti yang baru berupaya melakukan perubahan sebaik mungkin. Perubahan dinasti ini membawa perubahan pula pada kehidupan anjing-anjing penjilat yang dulu dimanja oleh tuannya. Maklum, pada masa dinasti yang baru, tuan-tuan dengan anjing penyalak lebih mampu bertahan hidup. Sementara tuan dan anjing penjilat harus bersusah payah untuk bisa hidup. Bila perlu mereka akan berpura-pura untuk menjadi tuan dan anjing penyalak. Dinasti yang baru benar-benar telah membalikkan keadaan.

Rupanya keadaan yang sudah terbalik itu belum mampu memusnahkan tuan dan anjing penjilat. Mereka telah beradaptasi dengan keadaan. Mereka banyak belajar menyalak, menggeram, dan tidak manja. CELAKANYA. bagi yang licik, mereka akan ‘memutasi’ gen mereka sendiri sehingga menyerupai tuan dan anjing penyalak. Bagi tuan penjilat, mereka dengan lantang akan mengatakan bahwa dirinya sangat menentang apa yang dulu dikenal dengan ABS. “Saya tidak suka dengan ABS, karena ABS hanya akan membohongi saya. HUH! menyebalkan” Sementara para anjing penjilat mampu merubah jilatan-jilatan mereka hingga menyerupai gonggongan atau geraman. Demikian hebatnya penyamaran mereka, sampai-sampai bekas tuan penjilatnya sendiri tidak mengenali lagi jilatan mereka. Hebatnya mantan tuan penjilat ini bisa menikmati gonggongan dan geraman palsu para anjing penjilat. Akh… sebenarnya tidak perlu heran, karena mereka adalah tuan dan anjing penjilat yang dulu bersimbiosis mutualisme.

Itu dulu, tidak untuk pada masa dinasti reformasi. Pada masa dinasti reformasi mereka bahkan bisa saling ‘memakan’ untuk menyelamatkan penyamaran masing-masing. Sang mantan tuan penjilat akan menendang mantan anjing penjilat bila mereka ceroboh saat berpura-pura menggonggong. Sementara mantan anjing penjilat beranggapan bahwa mantan tuan penjilat memang tidak suka dijilat tetapi lebih suka dibohongi dengan gonggongan dan geraman palsu tadi.

Perubahan mantan tuan dan anjing penjilat di masa dinasti baru benar-benar mengganggu para anjing penyalak yang hidup liar dan dulu terbiasa menggonggong setiap saat. Beberapa bahkan tidak hanya mengganggu melainkan sudah mulai membahayakan kehidupan anjing penyalak yang liar. Untuk bertahan hidup, mantan tuan dan anjing penjilat bila perlu harus mengambil peluang hidup anjing penyalak liar. Dalam kondisi seperti ini anjing penyalak liar pun akhirnya harus mulai belajar kapan saatnya untuk menggonggong, kapan menggeram, dan kapan harus diam. Benar-benar keadaan yang menyulitkan bagi anjing penyalak liar, karena sudah terbiasa menyalak setiap saat kapan pun dia mau.

Sementara keadaan tuan dan anjing penyalak menjadi lebih baik di masa dinasti baru. Mereka sedikit lebih bisa mengendalikan kehidupan dan mendapat lebih banyak kepercayaan dan peluang untuk bertahan hidup. Dinasti yang baru membuat mereka lebih bisa menikmati apa yang seharusnya sudah bisa mereka nikmati pada masa dinasti Orde Baru. Sayangnya beberapa di antara mereka kadang menjadi lengah dan mudah disusupi oleh para mantan tuan dan anjing penjilat.

Entah sampai kapan pembenahan dilakukan oleh dinasti reformasi. Apakah dinasti reformasi bisa bertahan cukup lama ataukah hanya sebuah dinasti peralihan saja. Kisah ini menarik untuk diikuti kelanjutannya. Untuk itu mari bersama-sama melihat dan mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya. Atau barangkali sudah ada yang bisa memprediksi?

11 Responses to “Pilih (Anjing) yang Mana?”

  1. Awalnya emosi dan marah. Daripada ditahan dan jadi jerawat mending ditulis. Lumayan bisa sedikit lega… :-)

  2. Sekarang sudah lega belom?

  3. Oya .. ada puisi bagus dari sahabat ku .. Anak Agung Gede Putra .. Bicaralah dan Jangan Bicara .. sarat makna dan dalam.

    Kehidupan memang seperti apa yang kita alami. Jauh dari yang kita anggap ideal. Tapi .. kita tak boleh putus asa. Ada pundak sahabat tempat kita berbagi.

    Postingan abang tentang Politik di kantor, adalah letupan dari curhat-nya teman2. Sayang .. abang baru membaca postingan mu .. tapi, nanti abang link ke postingan abang deh.

  4. Tidak Bang, saya tidak akan berputus asa demi “susu anakku”. Saya akan tetap bertahan, bahkan sampai babak belur. Kalau saya berputus asa dan menyerah ‘anjing-anjing’ penjilat itu akan tertawa menang. Walaupun saya juga belum tahu bagaimana harus bertahan.

    ah perot, karena saking repotnya :-)

    oya, thx banget kalo di-link…

  5. Selalu…
    Selalu ada fenomena semacam ini di berbagai tempat/kantor…
    Saran saya, yang penting tetap berada di jalur “Benar” aja mas… apa pun itu fenomena manusia2 di hadapan kita…

    #Semoga saya juga bisa# :)

  6. Benar Pak Herianto,
    Berada di jalur yang “Benar” adalah cara “bertahan” yang baik, dan selama ini saya mencoba untuk demikian.
    Tetapi ketika menahan diri dengan fenomena2 manusia seperti yang bapak maksudkan, kadang saya merasa seperti menjadi orang lain, bukan diri saya yang sebenarnya. Sehingga saya berusaha mencari diri saya yang dulu dan memunculkannya agar hidup tetap bergairah :-)

    Bukankah tidak benar kalo sampe harus mengalami crisis identity. Menurut saya disitulah susahnya. Semoga saya pun bisa tetap selalu ingat untuk berada di jalur yang “Benar”

    Tetapi paling tidak saya bertambah lega karena saran dan pendapat bapak.

    Bai de wei, kalo di kantor selalu ada fenomena seperti ini, kira-kira apa ya bisa maju dengan baik dan benar perusahaan tersebut…

  7. “Bai de wei, kalo di kantor selalu ada fenomena seperti ini, kira-kira apa ya bisa maju dengan baik dan benar perusahaan tersebut”

    Bisa saja.. dan biasanya ada konsekuensi yang fatal. kena pidana misalnya, korupsi terus bangkrut deh.

    Sikap ABS sendiri udah mulai nampak lho dari para pelajar. coba aja perhatikan, paling tidak dilingkungan keluarga. Waspada! Pertanyaannya adalah apakah saya ini seorang penjilat atau bukan?
    Ask your self not mine! :D

  8. benbego,
    benar juga kata Anda. Kalau saya ingat-ingat kembali, sikap ABS telah mulai muncul saat masih di bangku sekolah. Wuiihh…
    Saya jadi bertanya pada diri sendiri (introspeksi) seperti yang Anda tanyakan, apakah kita termasuk seorang penjilat atau bukan?
    Mudah-mudahan tidak. seandainya ternyata masih tergolong penjilat, mudah-mudahan saya bisa mengikisnya.

    cerita dikit, koneksi internet di kantor saya sekarang diputus, karena saya mengatakan sebuah fakta yang membuat ‘Bapak’ saya tidak ‘Senang’. Uh, jadi ke warnet deh :-D

    Thx Mas, komennya.

  9. … as a person that ever be your superior (and thank you for still considering me as a friend – whatever a bad guy I was) … just need to say:

    1. Hey, what r u waiting for? Get a grip! Ada pintu lain yang harusnya kelihatan dari tempatmu berada! Sudah kutunjukkan meski dengan sedikit kedikan di kepala dan bahu …

    2. Perubahan selalu menimbulkan sakit, tapi trust me, cuma sebentar.

    3. OOT : Aku yg nunjukin gimana nge-blog, eh sekarang blog nya udah lebih bagus dari yang ngasih tunjuk … huahahahaha

    profisiat atas lahirnya blankers …

    tapi kok gak dilanjutin setelah “mulyo” di Surabaya?

    [Phoenix]

  10. @Andrew ‘phoenix’ Firstiant
    U R still my priend laaa… whateper U R :-)
    1. Woops, sori bos aku kadang g yakin apakah aku bisa melihat pintu itu? Mohon bantuan, kayaknya perlu di reminder neh. Masih berkenan kan support aku?

    2. Deal. Changes! tapi yang paling sulit adalah bagaimana menjaga motivasi awal agar tetep utuh.

    3. Kayak gini dibilang blog bagus, WADOUW..! belum ada apa-apanya neh boss. Masih harus banyak belajar untuk nulis :-)

    Iya, setelah di Surabaya, malah jadi gak sempet karena ribet.
    Mulyo? Aminnn…

    Thx, pak udah mampir n tinggalin banyak kata yg bisa ngingetin kebersamaan kita dulu. Masi bersama kan sekarang walo jauh. :-)

    salam.

  11. Buat “Mas” Blankers …
    1. Soal pintu: ya salah satunya kenapa dirimu ada di Kota penuh buaya (hehehe …) skrg ini, kan hasil dari melihat salah satu pintu. Pintu-pintu yang lain akan bermunculan, dan semakin keliatan, kalo kita sudah melewati pintu pertama. You have found a door to continue your survival dan hasilnya anda di Surabaya. Di Surabaya anda akan melihat pintu-pintu lain yang bertebaran di sekitar anda. Tinggal mau atau tidak.
    2. Njagain motivasi awal tu kalo di buat susah ya susah, di buat gampang ya gampang buanget, tohhh?? Yang gampang ya terdiri dari empat huruf berikut: S.E.T.A. hihihi … Yang susah: Jadilah orang nomor SATU di kerjaan. Sebelum jadi, do not rest, or giving up. Lari terus. Kejar terus. Kesempatannya ada kok. Tapi sedikit banget.
    3. Support? Huehehehehe … always, lah. At least, masih bisa di ajak ngomong secara waras ato tidak waras juga boleh …

    Ngomong-ngomong, mo bikin pas foto, mas? murah kok. 3×4 cuma 4 ribu aja dapet 5 lembar … buat KaTePe. Dipersilaken dateng ke kios poto scarlet di South Wales Djajar (SaWoDjajar) Huahahahaaa ….

    [Say Hi buat Seta, Ibu, Your Wife]
    Phoenix

Leave a Reply